Malaria

KAJIAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT MALARIA TAHUN 2009

1.  Kabupaten Jayapura Provinsi Papua

Penyakit Malaria hingga kini merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menggelisahkan masyarakat dunia. Diperkirakan kurang lebih 300 hingga 500 juta terjadi kasus malaria dengan angka kematian berkisar antara 750 ribu hingga 2 juta Penduduk meninggal setiap tahunnya.  Jayapura merupakan daerah yang endemis malaria. Tahun 2006 penderita malaria sebanyak 24.877 penderita, tahun 2007  sebanyak 15.062 penderita dan tahun 2008 terdapat 15.062 penderita dengan jumlah penderita terbanyak ada di Distrik Sentani Timur. Kajian faktor risiko penyakit malaria di Kabupeten Jayapura dengan tujuan mengetahui faktor lingkungan (fisik, kimia, dan biologi) dan perilaku masyarakat yang berhubungan dengan penyakit malaria  di Kabupaten Jayapura.

Kajian ini bersifat observasional, dengan menggunakan metode cross sectional study dengan analisis deskriptif. Sampel lingkungan diperoleh dengan metode graph sampling, sedangkan veriabel lingkungan dan perilaku diperoleh dengan menggunakan kuisioner dan lembar observasi.

Hasil pemeriksaan darah terhadap 100 responden diperoleh 53 responden positif malaria dengan 16 palciparum, 20 vivax dan 7 mix. Hasil dari kajian ini adalah bahwa persentase malaria tertinggi ada pada responden yang  mempunyai kebiasaan di luar rumah pada waktu malam hari yaitu tidak berkumpul 62,5% , tidur di luar rumah 56,8 %, tidak bekerja 55,1 %, dan Mandi Cuci Kakus 55,7 %. Persentase malaria juga tinggi pada responden yang tidak menggunakan OAN bakar 56,7 %,  tidak menggunakan OAN Semprot 63,3 %, menggunakan repellent 69,2 %, menggunakan kelambu 56,7 % dan menggunakan kawat kasa 60,5 %. Kondisi lingkungan yang mempunyai persentase malaria tinggi yaitu tidak terdapatnya pepohnan dan semak rindang di sekitar rumah 57,1 %, terdapat genangan air dengan jarak kurang 1 km, terdapat comberan air di sekitar rumah responden 51,6 % dan terdapat kandang di sekitar rumah responden 75 %. Kondisi rumah umumnya terdapat lubang, suhu rumah berkisar 24 – 3 oC, kelembaban rumah berkisar 80 – 94 %, pencahayaan dalam rumah 10 – 29 lux meter. Terdapat 3 tempat perindukan yang dicurigai yaitu 2 lagun / air tergenang dan Danau Sentani. Suhu tempat perindukan berkisar 25.9 – 27oC, pH 6,1 – 7,1, Salinitas 1 permil dan terdapat rumput air lumut dan gangang pada tempat perindukan.

Rekomendasi :

Perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara mencegah penularan malaria dan upaya pengelolaan lingkungan serta pengamatan terhadap vektor dalam rangka mengurangi angka kesakitan malaria.

————————————————————————————————————————————————.

2.  Kabupaten Seram Bagian Barat ( SBB ) Provinsi Maluku

Penyakit Malaria hingga kini merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menggelisahkan masyarakat dunia diperkirakan kurang lebih 300 hingga 500 juta terjadi kasus malaria dengan angka kematian berkisar antara 750 ribu hingga 2 juta Penduduk meninggal setiap tahunnya. Di Kabupaten Seram Bagian Barat tahun 2006 dilaporkan bahwa AMI sebesar 47,92 per seribu penduduk dan API sebesar 46,20 per seribu penduduk. Kajian faktor risiko penyakit malaria di Kabupeten Seram Bagian Barat (SBB) Provinsi Maluku dengan tujuan mengetahui faktor lingkungan (fisik, kimia, dan biologi) dan perilaku masyarakat yang berhubungan dengan penyakit malaria di Kabupaten SBB

Kajian ini bersifat observasional, dengan menggunakan metode cross sectional study dengan analisis deskriptif. Sampel lingkungan diperoleh dengan metode graph sampling sedangkan veriabel lingkungan dan perilaku diperoleh dengan menggunakan kuisioner dan lembar observasi.

Hasil dari kajian ini adalah bahwa persentase malaria tertinggi ada pada responden yang mempunyai kebiasaan di luar rumah pada waktu malam hari, yaitu berkumpul 44 % , bekerja 42,9 %, tidur 41,7 % dan Mandi Cuci Kakus 35,7 %. Persentase malaria juga tinggi pada responden yang menggunakan jenis pakaian pelindung yaitu 44 % dan kelambu yaitu 41 %. Lingkungan sekitar rumah yang presentase malarianya tinggi pada rumah dengan semak rindang 44 % dan adanya kebun kelapa 43%. Rumah responden umumnya tidak dilengkapi dengan kawat kasa dengan jarak dari tempat perindukan kurang 1 km. Kualitas tempat perindukan (pH, Salinitas, Suhu dan Kelembaban sekitarnya) adalah kondisi yang disukai vektor untuk bertelur dan beristirahat.

Rekomendasi :

Perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara mencegah penularan malaria dan upaya pengelolaan lingkungan, serta pengamatan terhadap vektor dalam rangka mengurangi angka kesakitan malaria. (Hans M. & Sitti T.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: